TANAH TERAKHIR DI PETA YANG MEMERAH

Terkini 26 Jul 2026 18:27 7 min read 95 views By Redaksi

Share berita ini

TANAH TERAKHIR DI PETA YANG MEMERAH
PerwirasatuNews.my.id,- 26 Juli 2026.Di ruang arsip yang pengap dan berdebu, Arman Wiratama duduk sendirian di depan sebuah meja kayu tua. Sebagai pen...

PerwirasatuNews.my.id,- 26 Juli 2026.


Di ruang arsip yang pengap dan berdebu, Arman Wiratama duduk sendirian di depan sebuah meja kayu tua. Sebagai penyelidik yang sebentar lagi pensiun, ia mendapat tugas merapikan berkas perkara yang dianggap selesai oleh banyak orang. Di antara tumpukan map lusuh, ia menemukan selembar peta dengan lingkaran merah yang memenuhi hampir seluruh wilayah pesisir. Pada sudut kanan bawah, seseorang menulis dengan pensil yang mulai pudar, "Setiap sawah yang hilang selalu menyimpan satu nama."

Arman memandangi tulisan itu cukup lama. Ia merasa pernah membaca kalimat serupa, tetapi ingatannya seperti terkubur debu dan waktu. Di dalam map yang sama, ada foto seorang pemuda yang sedang berdiri di depan hamparan padi menguning. Nama yang tertulis di bawah foto itu adalah Bima Arasy, seorang lelaki yang beberapa tahun lalu dijatuhi hukuman karena dianggap mengubah lahan pertanian menjadi tambak udang.

Orang orang mungkin sudah melupakan Bima, tetapi Arman tidak pernah benar benar berhasil melupakan wajahnya. Ketika perkara itu bergulir, ia masih menjadi penyelidik lapangan yang ikut mengumpulkan bukti. Semua orang yakin bahwa Bima adalah pelaku utama, sementara Arman hanya menjalankan tugas sebagaimana mestinya. Namun setiap kali ia melihat foto itu, ada sesuatu yang terasa belum selesai.

Bima lahir dan besar di Desa Karangrejo, sebuah kampung kecil yang hidup dari sawah dan laut. Ayahnya meninggal ketika ia masih remaja, meninggalkan sebidang sawah yang menjadi satu satunya harta keluarga. Ibunya selalu berkata bahwa tanah itu bukan sekadar warisan, melainkan tempat seluruh nama leluhur mereka dititipkan. Karena itulah Bima tumbuh dengan keyakinan bahwa kehilangan sawah sama saja dengan kehilangan rumah.

Tahun demi tahun berlalu, cuaca berubah semakin sulit ditebak. Air laut naik perlahan dan beberapa kali merendam sawah warga hingga gagal panen. Utang mulai menghampiri banyak keluarga, termasuk keluarga Bima. Setiap malam ibunya menghitung uang receh di atas tikar, sementara Bima hanya menatap langit yang gelap tanpa mengetahui jalan keluar.

Suatu sore datang seorang lelaki bernama Surya Mahendra. Penampilannya sederhana, tetapi tutur katanya mampu membuat orang percaya. Ia mengaku sebagai pengusaha yang ingin membantu masyarakat pesisir memperoleh kehidupan yang lebih baik melalui budidaya udang vaname. Ia memperlihatkan gambar tambak yang luas dan rumah rumah megah milik para petambak yang menurutnya dulu juga hidup miskin.

"Apa kau ingin anak anak desa ini terus mewarisi kemiskinan," tanya Surya dengan suara pelan.

Bima tidak langsung menjawab. Ia hanya melihat hamparan sawah di hadapannya yang mulai retak karena kekurangan air.

"Kalau sawah ini hilang, kami makan apa," akhirnya ia bertanya.

Surya tersenyum tipis.

"Kalian tidak akan makan padi lagi. Kalian akan makan hasil dari masa depan."

Kalimat itu terus terngiang di kepala Bima selama berhari hari. Ia berdiskusi dengan ibunya, tetapi perempuan tua itu menolak keras. Baginya tanah harus dirawat sampai akhir hayat.

"Ayahmu meninggalkan tanah ini agar kita tetap punya tempat pulang," katanya sambil memegang segenggam padi.

"Tetapi kalau kita tidak punya uang, kita bahkan tidak mampu mempertahankannya," jawab Bima lirih.

Ibunya tidak menjawab. Air matanya jatuh mengenai bulir padi yang berada di telapak tangan.

Beberapa minggu kemudian Surya datang lagi bersama orang orang yang membawa map tebal dan stempel berwarna biru. Mereka mengatakan bahwa semua izin sudah diurus dan tidak ada aturan yang dilanggar. Mereka juga berjanji bahwa sebagian besar sawah masih dapat dipertahankan.

Bima tidak memahami bahasa hukum. Ia hanya melihat cap dan tanda tangan yang tampak meyakinkan. Dalam pikirannya, negara pasti tidak akan mengizinkan sesuatu yang salah.

Hari ketika alat berat mulai bekerja menjadi hari paling sunyi yang pernah dialami Desa Karangrejo. Burung burung pipit beterbangan meninggalkan sawah, sementara pematang yang selama puluhan tahun menjadi jalan kecil warga mulai diratakan. Anak anak yang biasa bermain layang layang hanya berdiri memandangi tanah yang dibelah seperti tubuh yang sedang dioperasi.

Guru tua desa yang bernama Malik Hidayana datang menghampiri Bima. Lelaki itu dikenal sebagai orang yang paling memahami sejarah kampung.

"Kau tahu apa yang sedang kau gali," tanyanya.

"Kolam untuk masa depan," jawab Bima.

Malik menggeleng pelan.

"Bukan. Kau sedang menggali kuburan untuk ingatan desa ini."

Bima mencoba melupakan perkataan itu. Tambak mulai menghasilkan keuntungan dan beberapa tetangganya mendapat pekerjaan baru. Rumah ibunya diperbaiki dan utang keluarga perlahan berkurang. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Bima merasa telah mengambil keputusan yang benar.

Namun kebahagiaan itu tidak bertahan lama. Air sumur warga mulai berubah asin. Sawah yang masih tersisa tidak lagi menghasilkan panen seperti dulu. Saluran irigasi kehilangan arah dan beberapa petani terpaksa menjual tanah mereka karena tidak bisa lagi ditanami.

Suara penolakan mulai terdengar dari berbagai penjuru desa. Malik mengumpulkan warga dan menunjukkan peta lama yang menyatakan bahwa kawasan itu adalah lahan yang harus dilindungi. Sebagian orang marah kepada Bima, sebagian lagi justru takut kepada orang orang yang berada di belakang proyek tambak.

Pada suatu malam, Malik datang ke rumah Bima.

"Aku tidak percaya kau sengaja menghancurkan desa ini," katanya.

Bima menatap lelaki tua itu dengan mata lelah.

"Aku hanya ingin ibu tidak lagi menangis karena utang."

Malik menghela napas panjang.

"Keserakahan sering datang memakai wajah pertolongan."

Beberapa hari kemudian laporan masyarakat sampai ke sebuah lembaga penegak hukum bernama Garda Nusa. Penyelidikan dilakukan diam diam. Ada petugas yang menyamar sebagai pembeli udang, ada yang berpura pura menjadi buruh harian, dan ada yang mengukur lahan ketika malam mulai turun.

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sebagian besar tambak berdiri di atas kawasan yang seharusnya tidak boleh dialihfungsikan. Lebih mengejutkan lagi, sebagian izin ternyata tidak sesuai dengan lokasi sebenarnya.

Ketika petugas datang, Surya Mahendra sudah menghilang. Rumah kontrakannya kosong dan nomor teleponnya tidak lagi aktif. Yang tertinggal hanya Bima dan para pekerja yang tidak memahami apa pun tentang tata ruang dan perizinan.

Bima dibawa untuk diperiksa. Di ruang penyidikan ia menyerahkan semua dokumen yang pernah diterimanya.

"Semua ini diberikan Surya," katanya.

Penyidik membuka lembar demi lembar.

"Sebagian besar surat ini palsu."

Bima memejamkan mata. Ia merasa seluruh dinding ruangan bergerak mendekatinya.

Berita tentang penetapan dirinya sebagai tersangka menyebar dengan cepat. Banyak orang menyebutnya tamak dan pengkhianat desa. Ibunya jatuh sakit karena tidak sanggup menghadapi cibiran. Sementara Malik tetap datang menjenguk sambil membawa seikat padi yang mulai mengering.

"Kenapa Bapak masih percaya kepada saya," tanya Bima.

Malik tersenyum.

"Karena orang yang serakah biasanya tidak pernah menangis ketika melihat sawah dirusak."

Sidang berlangsung berbulan bulan dan akhirnya Bima dijatuhi hukuman. Hakim menyatakan bahwa ia bertanggung jawab atas perubahan fungsi lahan dan berbagai pelanggaran yang terjadi. Ketika dibawa meninggalkan ruang sidang, Bima hanya sempat melihat ibunya berdiri sambil memeluk seikat padi yang sudah berubah warna menjadi kecokelatan.

Waktu berlalu dan perkara itu perlahan dilupakan. Tambak terbengkalai, sebagian kolam rusak diterjang banjir rob, dan Desa Karangrejo kehilangan banyak petani mudanya. Hanya Malik yang sesekali datang membersihkan makam orang tua Bima yang telah tiada.

Kini, bertahun tahun setelah semua berakhir, Arman duduk kembali di ruang arsip sambil membuka berkas lama. Ia menemukan sebuah buku kecil yang terselip di balik peta merah. Buku itu tidak pernah menjadi bagian dari barang bukti.

Halaman demi halaman berisi catatan pembayaran, daftar nama, dan lokasi lokasi sawah yang berubah menjadi tambak di berbagai daerah. Ada pula tulisan tentang seseorang bernama Surya Mahendra yang selalu menjadi penghubung utama.

Jantung Arman berdegup lebih cepat. Ia membuka halaman terakhir dengan tangan gemetar.

Di sana hanya ada satu kalimat.

"Jangan mencari Surya Mahendra karena nama itu dipakai oleh siapa saja yang menerima bagian."

Arman segera memeriksa ulang seluruh berkas. Tidak ada data kependudukan yang lengkap, tidak ada sidik jari yang sama, dan tidak ada foto yang benar benar memperlihatkan wajah Surya. Anehnya, semua saksi merasa pernah berbicara dengannya, tetapi masing masing menggambarkan sosok yang berbeda.

Saat itulah Arman memahami sesuatu yang selama ini luput dari perhatian. Bima tidak pernah berhadapan dengan satu orang. Ia berhadapan dengan sebuah jaringan yang menggunakan satu nama untuk banyak wajah.

Arman berdiri dan kembali melihat peta merah yang ditemukan di awal. Ternyata setiap lingkaran pada peta memiliki catatan kecil di bawahnya. Semua catatan itu berisi nama nama orang yang dipenjara, sementara tidak satu pun mencantumkan orang yang menikmati keuntungan terbesar.

Pada sudut paling bawah peta terdapat sebuah lingkaran baru yang dibuat dengan tinta segar. Lingkaran itu berada tepat di atas desa tempat Arman dibesarkan. Di sampingnya ada tulisan pendek yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.

"Penghubung berikutnya telah dipilih."

Di bawah kalimat itu tertulis satu nama.

Arman Wiratama.

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Perwira Satu News