Muktamar Nasyiatul Aisyiyah Menatap Abad Kedua

Terkini 09 Aug 2026 19:21 • 8 min read • 93 views • By Redaksi: PerwirasatuNews.my.id

Share berita ini

Muktamar Nasyiatul Aisyiyah Menatap Abad Kedua
PerwirasatuNews.my.id, SURAKARTA — Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta, Jawa Tengah, 6–8 Agustus 2026, menandai babak baru perjalanan gerak...

PerwirasatuNews.my.id, SURAKARTA — Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta, Jawa Tengah, 6–8 Agustus 2026, menandai babak baru perjalanan gerakan perempuan muda Islam berkemajuan. Forum permusyawaratan tertinggi organisasi ini tidak hanya menetapkan kepemimpinan periode 2026–2030, tetapi juga meneguhkan agenda kaderisasi, ketahanan keluarga, literasi digital, pemberdayaan perempuan, dan peradaban berkelanjutan di tengah perubahan zaman.

Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah (NA) berlangsung dalam suasana yang menegaskan kembali posisi organisasi sebagai salah satu kekuatan penting gerakan perempuan muda Muhammadiyah. Digelar di Surakarta, Jawa Tengah, rangkaian permusyawaratan tersebut mempertemukan kader dari berbagai wilayah Indonesia untuk mengevaluasi perjalanan organisasi sekaligus merumuskan arah gerakan empat tahun mendatang.

Mengusung tema “Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan”, Muktamar tidak berhenti pada agenda pergantian kepemimpinan. Tema tersebut menjadi penanda bahwa Nasyiatul Aisyiyah ingin menempatkan perempuan muda sebagai aktor perubahan yang mampu membaca persoalan zaman, membangun solusi, serta menghadirkan dakwah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Sekitar 875 kader menjadi peserta resmi Muktamar. Dalam proses pemilihan anggota Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2026–2030, sebanyak 855 peserta menggunakan hak pilih melalui mekanisme e-voting. Dari proses tersebut masuk 11.115 suara yang kemudian menghasilkan 13 formatur terpilih.

Proses kaderisasi dan pemilihan berlangsung bertahap. Sebelum memasuki arena Muktamar, terdapat 68 calon sementara anggota PPNA periode 2026–2030. Melalui Tanwir III, jumlah tersebut disaring menjadi 39 calon tetap. Selanjutnya, Muktamar menetapkan 13 nama formatur yang memperoleh mandat untuk menyusun kepemimpinan PPNA periode berikutnya.

Hasil pemilihan menempatkan Monica Subastia pada posisi teratas dengan perolehan 725 suara. Di bawahnya terdapat Desi Ratna Sari dengan 680 suara, Syahdara Anisa Makruf 675 suara, Uswatun Hasanah Sain 661 suara, Sumarni Susilowati 651 suara, Dwi Setyowati 604 suara, Oom Komariah 569 suara, Dwi Astuti 556 suara, Mutmainnah 541 suara, Rini Marlina 527 suara, Fatihah Nur 514 suara, Lia Karisma Saraswati 444 suara, dan Lesti Kaslati Siregar 380 suara.

Ke-13 formatur tersebut kemudian menjalankan mandat organisasi untuk menentukan Ketua Umum. Melalui Sidang Formatur yang berlangsung secara musyawarah mufakat di Hotel Dwangsa, Surakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026, Monica Subastia ditetapkan sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah periode 2026–2030.

Penetapan tersebut disampaikan Ketua Panitia Pemilihan, Ni’matul Azizah, pada Sabtu pagi. Dengan keputusan itu, Monica menggantikan Ariati Dina Puspitasari yang memimpin PPNA pada periode 2022–2026.

Bagi Nasyiatul Aisyiyah, pergantian kepemimpinan tersebut bukan sekadar perubahan figur. Ia menjadi bagian dari kesinambungan kaderisasi yang telah dipersiapkan melalui pengalaman panjang di berbagai jenjang organisasi. Monica sendiri bukan nama baru dalam lingkungan Persyarikatan Muhammadiyah.

Monica Subastia lahir di Magelang pada 10 Februari 1996. Jejak organisasinya telah dimulai sejak usia pelajar. Ia aktif di Ikatan Pelajar Muhammadiyah sejak duduk di SMP Muhammadiyah Tempuran, Kabupaten Magelang. Aktivitas tersebut berlanjut ketika menempuh pendidikan di SMK Muhammadiyah Salaman melalui Pimpinan Ranting IPM.

Pengalaman Monica di IPM berkembang secara bertahap. Ia pernah dipercaya sebagai Sekretaris Umum PD IPM Kabupaten Magelang periode 2015–2017, kemudian menjadi Sekretaris Umum PW IPM Jawa Tengah periode 2017–2019. Pada Muktamar XXI IPM, ia menjadi salah satu formatur PP IPM dan selanjutnya dipercaya sebagai Ketua Bidang Perkaderan PP IPM periode 2018–2020.

Perjalanan di Nasyiatul Aisyiyah dimulai sejak 2015. Monica pernah menjadi Ketua 1 PCNA Mertoyudan dan Bendahara 2 PDNA Kabupaten Magelang periode 2017–2023. Ia juga pernah menjadi anggota Departemen Sosial PWNA Jawa Tengah pada periode yang sama.

Pengalaman tersebut kemudian membawanya ke tingkat wilayah dan pusat. Pada periode 2022–2026, Monica dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah. Pada periode yang sama, ia juga dipercaya menjadi Ketua Departemen Advokasi Sosial PPNA.

Selain aktivisme organisasi, Monica memiliki perhatian pada pemberdayaan komunitas, penelitian, dan pendidikan. Ia merupakan founder Komunitas Ruang Belajar Perempuan. Dengan latar belakang tersebut, kepemimpinannya di tingkat pusat membawa kombinasi pengalaman perkaderan, advokasi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam Sidang Pleno III Tanwir NA pada 6 Agustus 2026, Monica telah terpilih sebagai salah satu dari 39 calon tetap PPNA dengan perolehan 174 suara. Dua hari kemudian, dalam pemilihan 13 formatur Muktamar, ia memperoleh suara tertinggi, yakni 725 suara. Tingginya dukungan tersebut menjadi salah satu indikator kuat penerimaan peserta terhadap pengalaman dan kapasitasnya.

Namun, amanah sebagai Ketua Umum tidak diposisikan Monica sebagai kemenangan personal. Dalam pesan perdananya setelah ditetapkan, ia mengajak seluruh kader membawa “obor” Nasyiatul Aisyiyah agar tidak hanya menyala di pusat organisasi, tetapi menerangi masyarakat di berbagai penjuru Indonesia.

Pesan tersebut memperlihatkan orientasi kepemimpinan yang ingin memperluas kebermanfaatan organisasi. Nasyiatul Aisyiyah tidak cukup hanya kuat di dalam struktur, tetapi harus hadir di tengah persoalan konkret masyarakat.

Menurut Monica, perubahan zaman semakin cepat dan persoalan yang dihadapi masyarakat semakin kompleks. Karena itu, Nasyiatul Aisyiyah harus terus bergerak, adaptif, dan mampu memberikan jawaban atas kebutuhan zaman.

Salah satu perhatian utama kepemimpinan baru adalah penguatan ketahanan keluarga. Keluarga dipandang sebagai ekosistem sosial paling kecil yang harus diperkuat agar perempuan, laki-laki, pasangan suami istri, dan anak memiliki kemampuan menghadapi perubahan sosial secara sehat dan berdaya.

Agenda lainnya adalah menjadikan Nasyiatul Aisyiyah sebagai trendsetter literasi bagi perempuan muda di era digital. Ruang digital dinilai bukan hanya tempat menyampaikan informasi, tetapi juga arena pembentukan opini, pendidikan, pemberdayaan, dan perlindungan perempuan.

Karena itu, organisasi ditantang menghadirkan narasi yang ramah, aman, dan mencerahkan. Literasi yang dikembangkan tidak berhenti pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga mencakup kemampuan memahami persoalan kehidupan, menyaring informasi, membangun relasi sehat, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Isu keluarga, parenting, ekonomi digital, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan menjadi bagian dari ruang baru dakwah yang harus diperkuat. Dengan demikian, dakwah Nasyiatul Aisyiyah dapat menjangkau kebutuhan riil perempuan muda yang hidup di tengah transformasi teknologi dan perubahan sosial.

Arah tersebut sejalan dengan tema Muktamar tentang peradaban berkelanjutan. Perempuan muda tidak hanya dipersiapkan untuk menjadi kader organisasi, tetapi juga sebagai penggerak masyarakat dan penjaga masa depan kehidupan.

Selama periode sebelumnya, Nasyiatul Aisyiyah telah mengembangkan berbagai program yang mencerminkan perluasan medan gerakan. Di antaranya Samara Course, PASMINA, layanan paralegal perempuan, RALINA, Gerakan Mengaji Nasyiatul Aisyiyah, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, Green Nasyiah, Eco Bhinneka, penguatan ekonomi kader, serta pendampingan studi lanjut.

Program-program tersebut menunjukkan bahwa dakwah perempuan muda Muhammadiyah semakin luas. Persoalan agama berkelindan dengan keluarga, hukum, pendidikan, ekonomi, lingkungan, literasi, dan kepemimpinan.

Karena itu, tantangan Monica dan jajaran PPNA 2026–2030 bukan sekadar mempertahankan program yang sudah berjalan. Tantangan lebih besar adalah memastikan seluruh program memiliki dampak nyata dan mampu menjangkau lapisan masyarakat yang lebih luas.

Pesan Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dalam pembukaan Muktamar juga menjadi relevan. Muktamar, menurut Haedar, tidak semestinya hanya menjadi forum memilih pimpinan, tetapi harus menjadi momentum untuk memikirkan masa depan organisasi dalam rentang lima, sepuluh, bahkan lima puluh tahun ke depan.

Perspektif tersebut menempatkan Muktamar XV sebagai forum strategis. Keputusan yang dihasilkan tidak hanya menentukan siapa yang memimpin Nasyiatul Aisyiyah selama empat tahun, tetapi juga bagaimana organisasi mempersiapkan generasi perempuan muda untuk menghadapi perubahan yang jauh lebih panjang.

Surakarta sendiri memiliki nilai historis bagi Nasyiatul Aisyiyah. Kota ini pernah menjadi lokasi Muktamar pertama Nasyiatul Aisyiyah sebagai organisasi otonom yang mandiri pada 2000. Kembalinya Muktamar ke Surakarta lebih dari dua dekade kemudian memberikan simbol kuat: organisasi kembali ke salah satu titik sejarahnya untuk menyusun langkah menuju masa depan.

Dari Surakarta, Nasyiatul Aisyiyah kini memasuki fase baru. Monica Subastia bersama 12 formatur lainnya memperoleh mandat untuk menggerakkan organisasi selama periode 2026–2030. Tantangannya adalah menjadikan hasil Muktamar bukan sekadar dokumen keputusan, tetapi gerakan yang terasa manfaatnya oleh kader dan masyarakat.

Dengan pengalaman panjang dalam perkaderan IPM, Nasyiatul Aisyiyah, advokasi sosial, pendidikan, dan pemberdayaan komunitas, Monica memiliki modal pengalaman untuk mengemban amanah tersebut. Namun, ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya pada kuatnya struktur organisasi, melainkan pada seberapa jauh Nasyiatul Aisyiyah mampu hadir menjawab persoalan perempuan muda dan masyarakat.

Muktamar XV akhirnya bukan sekadar cerita tentang pergantian ketua. Ia merupakan cerita tentang regenerasi, kesinambungan, keberanian membaca zaman, dan usaha menyiapkan masa depan gerakan perempuan Islam berkemajuan.

Dari Surakarta, obor itu kembali dinyalakan. Tugas berikutnya adalah memastikan cahayanya tidak berhenti di ruang-ruang Muktamar, tetapi benar-benar menerangi kehidupan masyarakat Indonesia.

TRACK RECORD MONICA SUBASTIA

Nama: Monica Subastia, M.Pd.
Tempat, tanggal lahir: Magelang, 10 Februari 1996
Usia: 30 tahun
Domisili: Banguntapan, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Jabatan: Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2026–2030
Jabatan sebelumnya: Ketua PW Nasyiatul Aisyiyah Jawa Tengah periode 2022–2026
Jabatan di PPNA: Ketua Departemen Advokasi Sosial PPNA periode 2022–2026
Organisasi pelajar: Aktif di IPM sejak SMP Muhammadiyah Tempuran
Pengalaman IPM: Sekretaris Umum PD IPM Kabupaten Magelang 2015–2017; Sekretaris Umum PW IPM Jawa Tengah 2017–2019; Ketua Bidang Perkaderan PP IPM 2018–2020
Pengalaman NA: Ketua 1 PCNA Mertoyudan; Bendahara 2 PDNA Kabupaten Magelang; anggota Departemen Sosial PWNA Jawa Tengah
Aktivitas profesional: Pekerja lepas dengan minat pada pemberdayaan komunitas, penelitian, dan pendidikan
Inisiatif: Founder Komunitas Ruang Belajar Perempuan
Hasil pemilihan Muktamar XV: 725 suara, tertinggi dari 13 formatur
Penetapan Ketua Umum: melalui musyawarah mufakat 13 formatur pada 8 Agustus 2026
Masa amanah: 2026–2030

BIODATA RINGKAS

Monica Subastia adalah kader perempuan muda Muhammadiyah yang tumbuh melalui proses perkaderan berjenjang sejak IPM hingga Nasyiatul Aisyiyah. Pengalamannya mencakup perkaderan, advokasi sosial, pendidikan, penelitian, dan pemberdayaan komunitas. Sebelum memimpin PPNA, Monica dipercaya memimpin PWNA Jawa Tengah periode 2022–2026 sekaligus menjadi Ketua Departemen Advokasi Sosial PPNA.

Pada Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Surakarta, Monica memperoleh suara tertinggi dalam pemilihan 13 formatur dengan 725 suara. Para formatur kemudian bermusyawarah dan menetapkannya secara mufakat sebagai Ketua Umum PPNA periode 2026–2030. Amanah tersebut menempatkannya sebagai nakhoda baru Nasyiatul Aisyiyah dalam perjalanan memasuki abad kedua gerakan perempuan Islam berkemajuan.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News