Menjaga Lisan Menjaga Kehidupan

Terkini 09 Aug 2026 05:38 • 4 min read • 163 views • By Redaksi

Share berita ini

Menjaga Lisan Menjaga Kehidupan
PerwirasatuNews.my.id, 09 Agustus 2029.Setiap manusia pasti pernah berada pada posisi menerima ucapan yang menyakitkan hati. Ada kalanya perkataan itu...

PerwirasatuNews.my.id, 09 Agustus 2029.


Setiap manusia pasti pernah berada pada posisi menerima ucapan yang menyakitkan hati. Ada kalanya perkataan itu bukan sekadar saran, melainkan telah berubah menjadi prasangka, ketakutan, bahkan doa buruk yang diucapkan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Islam mengajarkan bahwa lisan adalah amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah. Karena itu, setiap ucapan hendaknya menjadi penyejuk hati, bukan penyebab luka bagi sesama.

Ucapan adalah cerminan isi hati. Hati yang dipenuhi keimanan akan melahirkan perkataan yang lembut, penuh kasih sayang, serta mengandung doa-doa kebaikan. Sebaliknya, hati yang lalai sering kali menganggap enteng sebuah kalimat, padahal kalimat itu dapat melukai hati seseorang bertahun-tahun lamanya. Betapa banyak hubungan keluarga menjadi renggang hanya karena lisan yang tidak dijaga.

Dalam kehidupan bermasyarakat, tidak sedikit orang yang merasa berhak ikut mengatur urusan rumah tangga orang lain. Mulai dari persoalan jumlah anak, pekerjaan, rezeki, hingga cara mendidik keluarga. Padahal setiap keluarga memiliki keadaan, pertimbangan, dan ikhtiar yang berbeda. Apa yang tampak sederhana bagi seseorang belum tentu sederhana bagi orang lain. Karena itu, Islam mengajarkan adab menghormati wilayah pribadi orang lain selama tidak bertentangan dengan syariat.

Allah Swt. mengingatkan agar setiap orang menjaga lisannya dan hanya mengucapkan perkataan yang baik.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا ۝ يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar. Niscaya Allah akan memperbaiki amal-amalmu dan mengampuni dosa-dosamu. Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah memperoleh kemenangan yang agung." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Ayat tersebut memberikan pelajaran bahwa perkataan yang benar bukan sekadar sesuai fakta, tetapi juga disampaikan dengan hikmah, adab, serta mempertimbangkan maslahat. Sebuah kalimat bisa saja benar, tetapi jika disampaikan dengan cara yang menyakitkan, maka ia kehilangan nilai kebijaksanaannya.

Ucapan yang menakut-nakuti seseorang dengan kemungkinan kehilangan anak adalah sesuatu yang tidak pantas. Tidak ada seorang pun yang mengetahui takdir Allah. Kematian, kelahiran, kesehatan, dan musibah seluruhnya berada dalam kekuasaan-Nya. Menjadikan musibah sebagai alat untuk memaksakan pendapat bukanlah akhlak yang diajarkan Islam.

Allah berfirman:

وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِنْ وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Artinya:
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di darat dan di laut. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata." (QS. Al-An'am: 59)

Ayat ini mengingatkan bahwa manusia tidak memiliki hak untuk berbicara seolah-olah mengetahui masa depan. Takdir adalah rahasia Allah. Tidak sepantasnya seseorang membangun percakapan dengan skenario-skenario yang menakutkan, apalagi menyangkut kematian orang yang dicintai.

Rasulullah saw. juga memberikan tuntunan yang sangat jelas mengenai menjaga lisan.

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

Artinya:
"Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menjadi kaidah besar dalam etika berbicara. Tidak semua hal yang terlintas di pikiran harus diucapkan. Tidak semua pendapat wajib disampaikan. Diam sering kali lebih mulia daripada berbicara yang justru melukai hati orang lain.

Islam juga mengingatkan agar seorang Muslim tidak mudah mencampuri urusan yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Artinya:
"Di antara tanda baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya." (HR. Tirmidzi)

Mengomentari jumlah anak, menilai keputusan rumah tangga orang lain, atau memaksakan pandangan pribadi tanpa diminta sering kali termasuk perkara yang lebih baik ditinggalkan. Setiap keluarga memiliki amanah yang berbeda. Ada yang Allah karuniai banyak anak, ada yang sedikit, bahkan ada yang belum dikaruniai keturunan. Semua adalah ketetapan Allah yang mengandung hikmah.

Menghadapi orang yang gemar ikut campur memang membutuhkan kebijaksanaan. Jawaban yang lembut tetap menjadi pilihan utama selama masih memungkinkan. Namun apabila seseorang terus melampaui batas dan tidak memahami isyarat, menyampaikan jawaban yang tegas tanpa menghina dan tanpa kedustaan juga dapat menjadi bentuk penegasan agar ia menyadari kesalahannya. Ketegasan bukan berarti kehilangan akhlak, selama tetap menjaga adab dan tidak berubah menjadi permusuhan.

Lebih penting lagi, jangan sampai ucapan orang lain menggoyahkan keyakinan kepada Allah. Rezeki anak, panjang pendek umur, kebahagiaan keluarga, dan seluruh perjalanan hidup berada dalam genggaman-Nya. Tidak ada manusia yang mampu menambah atau mengurangi takdir Allah walaupun dengan ribuan perkataan.

Karena itu, marilah kita membiasakan lisan yang dipenuhi doa, bukan prasangka; dipenuhi harapan, bukan ketakutan; dipenuhi kasih sayang, bukan luka. Jadilah orang yang kehadirannya membuat orang lain merasa dihargai, bukan merasa dihakimi. Sebab boleh jadi satu kalimat yang kita ucapkan menjadi penyebab seseorang semakin dekat kepada Allah, tetapi satu kalimat yang sama juga dapat menjadi sebab hati seseorang terluka. Semoga Allah menghiasi lisan kita dengan kejujuran, kelembutan, hikmah, serta menjadikan setiap perkataan sebagai amal saleh yang mendatangkan rahmat-Nya di dunia dan keselamatan pada hari ketika seluruh ucapan akan diperlihatkan di hadapan-Nya.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Ad
test1
Perwira Satu News