Kedamaian Yang Bersumber Dari Iman

Terkini 27 Jul 2026 05:30 5 min read 101 views By Redaksi

Share berita ini

Kedamaian Yang Bersumber Dari Iman
PerwirasatuNews.my.id,- 27 Juli 2026Kedamaian sejati bukanlah keadaan ketika hidup selalu berjalan sesuai harapan, melainkan ketika hati tetap tenang...

PerwirasatuNews.my.id,- 27 Juli 2026

Kedamaian sejati bukanlah keadaan ketika hidup selalu berjalan sesuai harapan, melainkan ketika hati tetap tenang di tengah perubahan yang tidak dapat dihindari. Manusia datang dan pergi, keadaan silih berganti, namun seorang mukmin memiliki sandaran yang tidak pernah berubah, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dari sanalah lahir ketenangan yang tidak mudah digoyahkan oleh kehilangan maupun pertemuan.


Setiap manusia tentu pernah merasakan indahnya kehadiran seseorang. Orang tua, pasangan, anak, sahabat, guru, atau teman seperjalanan sering menjadi sumber semangat dalam menjalani kehidupan. Namun kenyataan mengajarkan bahwa tidak ada satu pun manusia yang dapat menemani kita selamanya. Ada yang dipisahkan oleh jarak, waktu, perbedaan jalan hidup, bahkan kematian. Jika seluruh kebahagiaan digantungkan kepada makhluk, maka hati akan mudah rapuh ketika kehilangan. Sebaliknya, jika hati bergantung kepada Allah, maka kehilangan tidak akan menghancurkan, melainkan menguatkan.


Allah mengingatkan bahwa segala sesuatu di dunia bersifat sementara.


﴿كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ ۝ وَيَبْقَىٰ وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ﴾


"Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal Wajah Tuhanmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan." (QS. Ar-Rahman: 26–27)


Ayat ini mengajarkan bahwa segala yang kita cintai di dunia memiliki batas waktu. Tidak ada manusia yang kekal. Tidak ada hubungan yang dapat bertahan selamanya di dunia. Yang abadi hanyalah Allah. Karena itu, hati yang menautkan cintanya kepada Allah akan tetap kokoh meskipun dunia berubah.


Bukan berarti Islam mengajarkan agar seseorang tidak mencintai manusia. Sebaliknya, Islam mendorong umatnya untuk mencintai keluarga, menghormati orang tua, menyayangi pasangan, mengasihi anak, dan berbuat baik kepada sesama. Namun cinta kepada manusia harus berada dalam bingkai cinta kepada Allah, sehingga tidak berubah menjadi ketergantungan yang melahirkan penderitaan.


Allah berfirman:


﴿وَمَا عِندَ اللَّهِ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ﴾


"Dan apa yang ada di sisi Allah lebih baik dan lebih kekal." (QS. Al-Qashash: 60)


Seorang mukmin memahami bahwa kebahagiaan bukan berasal dari banyaknya orang yang mengelilinginya, melainkan dari dekatnya dirinya dengan Rabb semesta alam. Kedekatan kepada Allah melahirkan ketenteraman yang tidak dapat dibeli oleh harta dan tidak dapat diberikan oleh manusia.


Allah berfirman:


﴿الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ﴾


"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram." (QS. Ar-Ra'd: 28)


Perhatikan bahwa Allah tidak mengatakan hati menjadi tenteram karena banyak teman, karena jabatan, karena popularitas, atau karena selalu ditemani orang yang dicintai. Allah menegaskan bahwa sumber ketenteraman adalah zikir kepada-Nya. Inilah fondasi kedamaian yang hakiki.


Rasulullah ﷺ juga mengajarkan agar hati tidak diperbudak oleh dunia dan segala isinya. Beliau bersabda:


«ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ»


"Bersikap zuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah mencintaimu. Bersikap zuhudlah terhadap apa yang dimiliki manusia, niscaya manusia akan mencintaimu." (HR. Ibnu Majah)


Makna zuhud bukan meninggalkan dunia, melainkan tidak menjadikan dunia sebagai penguasa hati. Begitu pula terhadap manusia. Kita boleh mencintai mereka, tetapi jangan sampai hati bergantung sepenuhnya kepada mereka. Ketika mereka hadir kita bersyukur, ketika mereka pergi kita tetap sabar, karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya yang beriman.


Kedamaian juga lahir dari keyakinan bahwa semua ketetapan Allah mengandung hikmah. Ada orang yang Allah hadirkan untuk menemani kita bertahun-tahun, ada pula yang hanya sebentar. Ada yang menjadi sebab kebahagiaan, ada pula yang menjadi pelajaran berharga. Tidak ada satu pun peristiwa yang sia-sia bagi orang beriman.


Rasulullah ﷺ bersabda:


«عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ»


"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki kecuali oleh seorang mukmin. Jika memperoleh kesenangan, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya." (HR. Muslim)


Hadis ini menjadi penawar bagi hati yang sedang terluka. Kehadiran seseorang adalah nikmat yang patut disyukuri. Kepergiannya pun dapat menjadi jalan untuk meningkatkan kesabaran, kedewasaan, dan kedekatan kepada Allah. Dengan demikian, setiap keadaan selalu membawa kebaikan bagi orang yang beriman.


Kita juga perlu berdamai dengan diri sendiri. Banyak orang merasa tidak berharga hanya karena ditinggalkan atau tidak dihargai manusia. Padahal kemuliaan seorang hamba tidak ditentukan oleh penilaian manusia, melainkan oleh ketakwaannya kepada Allah.


Allah berfirman:


﴿إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ﴾


"Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)


Karena itu, jangan biarkan kedamaian hati ditentukan oleh sikap manusia. Jadikan ridha Allah sebagai tujuan utama. Selama Allah meridhai langkah kita, maka penilaian manusia tidak akan mengguncang keteguhan hati.


Hidup yang dipenuhi iman akan melahirkan keseimbangan. Saat orang datang, kita menyambutnya dengan kasih sayang. Saat orang pergi, kita mengiringinya dengan doa. Saat dicintai, kita bersyukur. Saat dilupakan, kita tetap berbuat baik. Semua itu lahir karena hati telah mengenal bahwa Allah adalah sebaik-baik tempat bergantung.


Marilah kita mencintai kehidupan sebagai amanah dari Allah. Isi hari-hari dengan ibadah, amal saleh, akhlak mulia, silaturahmi, sedekah, serta dzikir yang tidak putus. Jangan menjadikan manusia sebagai pusat seluruh kebahagiaan, sebab mereka pun adalah hamba yang lemah. Jadikan Allah sebagai pusat cinta, harapan, dan sandaran hidup. Dengan demikian, kehadiran siapa pun akan menjadi nikmat yang disyukuri, sedangkan ketidakhadiran mereka tidak akan merampas kedamaian yang telah Allah tanamkan di dalam hati. Itulah ketenangan yang lahir dari iman, tumbuh bersama tawakal, dijaga oleh sabar dan syukur, serta mengantarkan seorang hamba menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.


Sumber: Dwi Taufan Hidayat


Komentar (0)

Belum ada komentar.

Perwira Satu News